Rabu, 03 Oktober 2012

Pasir


Oleh Amandus Klau
“Ke pantai, kita kembali bocah…melumuri tubuh dengan pasir, lalu tersipu setelah dibilas ombak”.
 
Demikian serangkai kata yang spontan kukirimkan kepada seorang sahabatku per SMS pada suatu siang. 
Dan masih kuingat, kata-kata ini kukirimkan untuk menjawabi sebuah pertanyaan sederhana, “lagi di mana?” 
Terkesan jawabanku tak ‘nyambung’, dan akhirnya menuai ledekan.
“Ditanya, ‘lagi di mana’, jawabannya puisi. Dasar orang aneh!” Begitu ledek sahabatku itu.
“Maaf, ini bukan puisi. Cuma serangkai kata yang mungkin tidak bermakna. Tapi, begitulah kalau otak kanan sedang aktif,” jelasku.
“Heem…makin kreatif. Saya curiga lagi berada di sebuah tempat yang sangat indah,” komentarnya.
“Bilang saja kalau mau menyusul”, godaku.
“Malas. Kurang kerjaan kali!”, jawabnya singkat.
“Baik, orang sibuk dan pekerja keras. Semoga nafasmu tidak terhenti dan darahmu tidak membeku suatu saat nanti hanya karena kelelahan,” kataku kesal.
***
Ombak bergulung hampir sederas tiupan angin. Makin lama makin meninggi, deras dan makin jauh pula bergulung ke arah daratan. Air laut pasang. Dan ini menjadi momen yang tepat bagi empat bocah: tiga lelaki dan seorang perempuan untuk unjuk kebolehan. Dua buah perahu motor kecil yang ditambat tak begitu jauh dari daratan menjadi sasaran mereka. Keempatnya naik ke atas buritan perahu, lalu melompat-menceburkan diri ke dalam gulungan ombak dengan gaya terbaik mereka. Mereka melakukannya berulang-ulang. Dan setelah merasa kelelahan, mereka keluar dari air dan merebahkan diri di atas pasir.
“Ke pantai, kita kembali bocah…melumuri tubuh dengan pasir, lalu tersipu setelah dibilas ombak”, demikian aku membatin lagi.
Tapi, pada saat yang sama, aku merasa tak sanggup mencerna makna dari kenyataan ini: entahkah hidup ini adalah suatu keindahan yang patut dinikmati, ataukah sekadar sebuah permainan menanti datangnya saat akhir?
Dan bahkan lebih dari ketaksanggupan mencerna makna, kata-kata sang Pengkhotbah terasa begitu kuat merasuki pikiran dan jiwaku. 
“Kesia-siaan belaka. Demikian kata sang Pengkhotbah. Segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”
***
Asyiknya permainan anak-anak nelayan di pesisir pantai Ipi, rindangnya pohon waru, sepoinya angin laut, serta gerak nalar kreatifku untuk memaknai kenyataan tersebut membuatku tak lagi peduli sudah berapa lama aku duduk di tempat itu. Bahkan, aku sampai nyaris tergoda untuk mengakui, bahwa inilah tempat terindah buatku, sebagaimana selalu dilitanikan seorang temanku. 
“Ke laut, ke pantai, ke panggkuan alam, kau akan temukan lagi indahnya kehidupan. Di sana, kau akan melepas semua jenuh dan gelisahmu”, katanya.
“Tapi, tidakkah semua akan sia-sia juga?” Demikian aku menantangnya ketika untuk pertama kalinya ia menasihati aku dengan kata-kata itu. 
“Tak ada yang sia-sia. Segala usaha dan kerja keras kita akan berharga pada suatu saat nanti. Segala sesuatu akan indah pada waktunya,” katanya meyakinkan.
***
Suara adzan dari sebuah masjid, yang berada tak begitu jauh dari pintu gerbang pelabuhan Ipi Ende, membuatku sadar kalau sudah saatnya aku harus beranjak pergi. Dan aku pun terpaksa kembali pulang dengan segenap gelisahku.
Betapa tidak? Ke kota, aku akan kembali ke keseharianku yang banal, ke kesibukanku yang menjenuhkan. Bahkan, bukan cuma aku, tapi semua warga kota.
Anak-anak sekolah, misalnya, bergegas ke sekolah atau ke kampus setiap pagi dengan penuh semangat. Terkesan ada harapan dan idealisme yang ingin mereka gapai. Namun, itu hanya sebuah alasan semu. Sebab, yang mereka kejar adalah selembar kertas ijazah, yang dapat memudahkan mereka untuk diterima di sebuah tempat kerja tertentu. Di sana, mereka akan mengerjakan apa yang diperintahkan atau ditugaskan untuk dikerjakan. Tak kurang, tak lebih. Jika kurang, gaji dipotong, dan jika lebih dituding bodoh, sebab tak akan ada bayaran atau penghargaan khusus untuk itu. Lalu, di mana idealisme? Jawabannya tak ada. Bahkan, ada yang menjawab tak pernah tahu. Idealisme itu tak ada. Apalagi yang namanya aktualisasi diri. Yang ada dan yang diketahui cuma sejumput uang untuk menafkahi hidup: membeli makanan dan minuman, pakaian, membangun rumah, dan kalau ada sedikit sisa, tentu membeli kendaraan untuk memperlancar segala aktivitasnya. Sesudah itu…selesai. Tinggal menanti saat kematian. Hidup lalu terkesan sangat simple. Padahal, Tuhan memberi kita kemampuan untuk berbuat lebih dari sekadar mempertahankan hidup.  Tuhan memberi kehidupan yang lebih berarti dari segala yang kita miliki. Semua itu ibarat pasir yang sesaat melekat di tubuh kita, lalu akan hilang disapu air atau apa saja. 
Jika demikian, mengapa orang mesti melecehkan hidupnya, misalnya dengan menilep atau menyelewengkan uang yang bukan miliknya? Mengapa orang harus saling bermusuhan demi jabatan? Dan akhirnya, mengapa orang mesti membunuh diri kalau kekurangan salah satu kebutuhannya?
    



  









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar